Pages

3/10/13

Marxisme, feminisme dan pembebasan perempuan[1]

Penindasan perempuan fundamental
bagi masyarakat berkelas

Sharon Smith*
31 January, 2013

INNESA ARMAND, pemimpin departemen perempuan pertama Revolusi Rusia 1917, menyimpulkan sebagai berikut: “Jika pembebasan perempuan tak bisa dibayangkan tanpa komunisme, maka komunisme tak akan bisa dibayangkan tanpa pembebasan perempuan”. Pernyataan itu merupakan rangkuman yang sempurna terhadap hubungan antara perjuangan  untuk sosialisme maupun pembebasan perempuan—bahwa tak satupun mungkin tanpa ada yang lain.

Dan tradisi Marxis telah sejak awal, melalui tulisan Karl Marx dan Frederick Engels, membela pembebasan perempuan. Sejak awal di dalam Manifesto Komunis, Marx dan Engels berargumentasi bahwa kelas penguasa menindas perempuan dan menyingkirkannya sebagai warga negara kelas dua di dalam masyarakat dan di dalam keluarga: “Kaum borjuis memandang istrinya sebagai instrumen produksi belaka... Ia bahkan tidak punya prasangka bahwa titik sebenarnya yang hendak dituju (oleh kaum Komunis) adalah menghapuskan status perempuan yang hanya dijadikan instrumen produksi belaka.”


Marx  tidak mempersembahkan banyak ruang di dalam karyanya, Capital, untuk menggambarkan peran persis kerja domestik perempuan di bawah kapitalisme. Dia pun tidak mengeksplorasi asal–usul penindasan perempuan di dalam masyarakat berkelas, meski dia memang membuat catatan etnologis yang mendalam terhadap subjek tersebut menjelang akhir hidupnya.

Setelah kematian Marx, Engels menggunakan beberapa catatan etnologi Marx untuk menulis Asal- Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara,  yang mengkaji  kemunculan penindasan perempuan sebagai sebuah produk dari lahirnya masyarakat berkelas dan keluarga inti (nuclear family). Apapun revisi yang diperlukan untuk memperbaharui buku Engels, buku ini merupakan terobosan di jamannya sebagai kontribusi untuk memahami penindasan perempuan, terutama karena Engels menulisnya di era Viktoria Inggris—yang hampir-hampir bukan merupakan jaman pencerahan bagi status perempuan.

Memang, Asal Usul patut mendapat perhatian karena atensi yang cermat diberikan Engels terhadap aspek-aspek personal penindasan perempuan di dalam keluarga, termasuk degradasi ekstrim yang diderita perempuan di tangan para suami mereka, dengan tingkat ketidaksetaraan yang tak dikenal di dalam masyarakat pra kelas. Engels menyebutkan bahwa munculnya keluarga inti ini sebagai “kekalahan historis jenis kelamin perempuan di dunia”. Meskipun catatan-catatan Marx menyebutkan bahwa sejarah kekalahan ini mulai terjadi selama periode waktu yang lebih lama—mendahului, dan mengantar pada munculnya, masyarakat berkelas—yang hasil akhirnya adalah suatu kemunduran luar biasa terhadap kesetaraan perempuan dengan lelaki.
Terlebih lagi, Engels secara eksplisit berargumen bahwa perkosaan dan kekerasan terhadap perempuan dibangun di dalam keluarga sejak awal:

Lelaki juga pemegang komando di rumah; perempuan dihina dan diturunkan menjadi hamba; ia menjadi budak nafsu lelaki dan sekadar menjadi instrumen bagi produksi anak-anak... Agar memastikan ketaatan istri, dan oleh sebab itu, garis ayah atas anaknya, ia (istri) diserahkan tanpa syarat ke dalam kekuasaan suaminya; jika si suami membunuhnya, maka ia (suami) sebetulnya hanya sedang menjalani haknya.

Engels juga berpendapat bahwa cita-cita keluarga monogami di dalam masyarakat berkelas didasarkan pada suatu kemunafikan mendasar. Sedari awal, keluarga telah dilabeli “dengan karakter khusus monogaminya  yang hanya ditujukan pada perempuan, tetapi tidak pada lelaki”. Ketika tindakan perselingkuhan yang dilakukan perempuan dikutuk habis-habisan, Engels berkata, “bahwa (tindakan itu) dianggap terhormat jika dilakukan oleh laki-laki, atau paling buruknya, sedikit noda moral saja yang dengan gembira ia (laki-laki) sandang.”

- - - - - - - - - - - - - - - -

JADI SATU HAL yang menonjol sedari awal dalam tradisi Marxis terkait pembebasan perempuan, bahwa persoalan-persoalan perempuan tidak pernah dilihat secara teoritis sebagai hanya kepentingan perempuan, melainkan juga kepentingan seluruh pemimpin revolusioner, lelaki dan perempuan. Seorang revolusioner Rusia, Leon Trotsky menulis “Untuk mengubah kondisi kehidupan, kita harus belajar melihatnya melalui mata perempuan”. Demikian halnya revolusioner Rusia V.I. Lenin biasanya merujuk penindasan perempuan di dalam keluarga sebagai “perbudakan domestik.”

Perbudakan domestik yang dirujuk Lenin merupakan pusat teori Marxis terkait penindasan perempuan. Sumber penindasan perempuan terletak pada peran keluarga sebagai pereproduksi tenaga kerja untuk kapitalisme—serta ketidaksetaraan peran perempuan di dalam keluarga. Sedangkan keluarga kelas penguasa secara historis berfungsi sebagai institusi yang melaluinya meneruskan warisan bagi generasi penerus, dengan kenaikan kapitalisme, keluarga kelas pekerja mengambil fungsi penyediaan pasokan tenaga kerja berlimpah kepada sistem.

Ini adalah cara yang sangat murah bagi para kapitalis, meskipun bukan bagi para pekerja, untuk mereproduksi tenaga kerja, baik dalam bentuk pengembalian tenaga bagi tenaga kerja sehari-hari, juga sebagai cara untuk membesarkan generasi baru tenaga kerja hingga dewasa. Struktur semacam ini menempatkan beban finansial membesarkan anak-anak dan mengelola rumah tangga hampir sepenuhnya ke pundak unit-unit keluarga kelas pekerja—mengandalkan terutama pada upah satu atau kedua orang tua untuk bertahan hidup, ketimbang pada pengeluaran pemerintah atau kelas kapitalis.

Munculnya keluarga kelas pekerja juga mulai membedakan secara tajam karakter penindasan yang diderita perempuan dari berbagai kelas. Peran perempuan kelas atas adalah memproduksi keturunan untuk mewariskan kekayaan keluarga, sementara perempuan kelas pekerja berfungsi untuk memelihara generasi pekerja saat ini dan masa depan di dalam keluarganya sendiri—yakni untuk mereproduksi tenaga kerja untuk (berlangsungnya) sistem. Engels berpendapat bahwa peran “istri proletariat” adalah “istri menjadi kepala pelayan ... Jika ia mengerjakan tugasnya melayani keluarganya, ia tetap tersingkir dari produksi publik dan tidak bisa menghasilkan pendapatan; dan jika ia ingin terlibat dalam produksi publik dan memperoleh pendapatannya sendiri, ia tidak bisa mengerjakan tugas keluarganya.”

Hingga hari ini, kompetisi tuntutan antara pekerjaan dan keluarga adalah sumber stres utama bagi ibu yang bekerja—tetapi khususnya dalam keluarga kelas pekerja, yang tidak bisa menyewa orang untuk mengerjakan cucian, pekerjaan rumah, memasak dan pekerjaan domestik lainnya.

Untuk  menopang keluarga, ideologi kelas penguasa memaksa lelaki dan perempuan mematuhi pemisahan kerja berbasiskan jenis kelamin secara kaku—termasuk ibu rumah tangga pengasuh yang ideal bagi perempuan, tersubordinasi pada kepala rumah tangga laki-laki selaku pencari nafkah—tak perduli seberapa kecil idealisasi tersebut betul-betul merefleksikan kenyataan hidup sesungguhnya rakyat kelas pekerja. Semenjak tahun 1970-an, mayoritas kaum perempuan telah menjadi bagian dari tenaga kerja, namun idealisasi keluarga ini, dan asumsi bahwa perempuan lebih cocok kepada tanggung jawab domestik di dalam keluarga, tetap hidup.  Peran perempuan sebagai pengurus di dalam keluarga mengurangi status mereka menjadi hanya warga negara kelas dua di dalam masyarakat secara keseluruhan, karena tanggung jawab utama mereka—sekaligus kontribusi terbesar mereka—dianggap menjadi pelayan kebutuhan keluarga mereka masing-masing.

Sehingga memahami peran keluarga adalah kunci untuk memahami posisi kelas dua perempuan di dalam masyarakat , menjawab pertanyaan mendasar: Mengapa kita masih tidak memiliki Amandemen Hak Kesetaraan yang akan menjamin kesetaraan hukum paling mendasar bagi perempuan? Mengapa perempuan direndahkan pada posisi objek seks, tunduk pada persetujuan atau ketidaksetujuan lelaki? Mengapa perempuan sekarang masih berjuang untuk hak kontrol atas tubuh mereka dan kehidupan reproduksi mereka? Ini dimulai dari keluarga, tetapi gaungnya menghampar jauh melampaui hidup di dalam keluarga.

Para pemimpin Revolusi Rusia 1917 tidak hanya memahami sentralitas keluarga sebagai akar penindasan perempuan, namun juga kesulitan yang melingkupi dalam merealisasikan kesetaraan di dalam keluarga sebagai pra kondisi bagi pembebasan perempuan di dalam masyarakat secara keseluruhan. Seperti yang ditulis Trotsky pada tahun 1920:

Untuk bisa mencapai kesetaraan nyata antara lelaki dan perempuan di dalam keluarga adalah... masalah yang berat. Semua kebiasaan domestik kita harus direvolusionerkan sebelum  hal  itu (kesetaraan)dapat terwujud. Namun cukup jelas bahwa kita sebenarnya tidak serius tentang kesetaraan (laki-laki dan perempuan) di dalam kerja sosial atau bahkan dalam politik, kecuali terdapat kesetaraan nyata di antara suami dan istri di dalam keluarga, baik di situasi normal maupun dalam syarat-syarat kehidupan.

Revolusi Rusia juga mulai menyuarakan, baik dalam tataran teori maupun praktek, bagaimana perjuangan melawan penindasan harus integral dengan perjuangan untuk sosialisme, menyatakan bahwa partai revolusioner harus menjadi sebuah “mimbar/tribun bagi kaum tertindas”. Lenin menyatakan posisi yang jelas berikut ini bahwa tujuan kesadaran revolusioner menghendaki kesediaan kaum pekerja untuk membela kepentingan semua orang yang tertindas dalam masyarakat, sebagai bagian dari perjuangan untuk sosialisme:

Kesadaran kelas pekerja tidak bisa menjadi kesadaran politik sejati kecuali kaum pekerja dilatih untuk merespon semua persoalan tirani, penindasan, kekerasan dan pelecehan, tak peduli kelas mana yang menjadi korban—kecuali mereka dilatih, terutama, merespon(nya) hanya dari sudut pandang Sosial – Demokratik.

 - - - - - - - - - - - - - - - -

FORMULASI INI amat sangat penting untuk memahami peran gerakan sosialis, tidak hanya dalam perjuangan kelas, melainkan juga dalam perjuangan melawan segala bentuk penindasan—dan di sini aku berharap menerapkan formulasi ini untuk berbicara secara khusus tentang penindasan perempuan, dan apa maknanya, baik secara teori maupun praktek.

Apa yang ditekankan oleh Lenin dalam kutipan di atas adalah, sementara sistem kapitalis didasarkan pada eksploitasi kelas pekerjadan kelas adalah pembagian kunci dalam masyarakat, antara yang mengeksploitasi dan dieksploitasi—di saat yang sama, sistem kapitalisme juga bersandar pada bentuk-bentuk spesifik penindasan untuk mempertahankan sistem tersebut. Dan bentuk-bentuk penindasan itu berdampak pada rakyat di semua kelas, tidak hanya kelas pekerja.
Beberapa contoh yang lazim di hari ini bisa mengilustrasikan hal ini dengan cukup mudah. Pertama, pemrofilan berbasis ras: Berkendaraan bagi yang berkulit hitam atau coklat bukan masalah yang berdampak hanya pada pekerja kulit hitam dan rakyat tertindas berbasis ras lainnya

Kenyataannya bahwa mengendarai sebuah Mercedes paling gres, dan berpakaian setelan termahal, tak membuatmu aman dari pemrofilan berbasis ras, dan diberhentikan oleh polisi.
Mari ambil contoh lain, sekarang khususnya tentang perempuan: batas kaca (the glass ceiling)[2]. Ada suatu alasan sederhana mengapa eselon-eselon atas dunia korporat dan politik masih sangat didominasi lelaki dan berkulit putih, dan ini karena rasisme dan seksisme, yang jelas dan sederhana. Kita memiliki lingkaran dalam kaum lelaki dan yang berkulit putih yang menjalankan masyarakat, dan yang Berkulit Hitam serta perempuan tidak diundang masuk ke dalamnya.
Akan menjadi hal yang salah bagi kita bila mengatakan “Siapa yang peduli tentang orang kaya—dan penindasan yang mereka rasakan tidak sebanding dengan penderitaan kelas pekerja dan rakyat miskin.” Itu bisa jadi benar, tetapi apa yang diargumentasikan Lenin di sini adalah bahwa memenangkan hak semua orang tertindas adalah krusial, tidak hanya demi perjuangan yang efektif melawan penindasan, tetapi juga perlu untuk mempersiapkan kelas pekerja membentuk masyarakat yang peduli pada seluruh (aspek) kemanusiaan.

Akan menjadi hal yang salah ketika kita mengatakan, “Siapa peduli pada mereka yang kaya-kaya itupenindasan yang mereka alami tak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan kelas pekerja dan rakyat miskin. Itu mungkin benar, namun apa yang dikatakan Lenin disini adalah memenangkan hak-hak semua rakyat tertindas merupakan hal penting, tak saja untuk melawan penindasan secara efektif, namun juga dibutuhkan untuk mempersiapkan kelas pekerja menjalankan masyarakat atas dasar semua kepentingan kemanusiaan.”    

Bagaimana kita dewasa ini merekonsiliasikan dua aspek Marxisme ini: peran kaum revolusioner dalam pembebasan diri kelas pekerja, serta sebagai pembela semua kaum tertindas, tak peduli kelas mana yang menjadi korban?

Mudah sekali bagi kita untuk mendukung berbagai alasan bagi perempuan membentuk serikat pekerja dan melakukan pemogokan serta menuntut hak atas upah yang setara. Perjuangan tersebut adalah perjuangan yang tak perlu dipikir dua kali”  untuk kita berikan dukungan tanpa syarat. Tetapi kenyataan yang sebenarnya justru dunia jauh lebih kompleks, dan sebagian gerakan yang paling penting melawan penindasan telah bangkit sebagai gerakan berbasis-non-kelas, termasuk feminisme dan perjuangan untuk kesetaraan perempuan.

Aku pikir bukti-bukti telah menunjukkan, khususnya, bahwa gerakan 1960-an dan awal 1970-antermasuk gerakan pembebasan perempuan, gerakan pembebasan gay dan hak-hak sipil serta gerakan Kekuatan Kulit hitam (Black Power)—merupakan gerakan sosial yang kuat yang telah memberikan efek transformatif, baik dalam hal kesadaran massa pada umumnya dan kesadaran kelas pekerja pada khususnya.

Kemajuan gerakan pembebasan perempuan pada tahun 1960-an telah memberikan pengaruh yang bertahan hingga saat ini di masyarakat, dan itulah mengapa sayap kanan selama 40 tahun terakhir telah menyerang semua capaian gerakan perempuan. Itulah mengapa feminisme itu sendiri terus menerus diserang sebagai upaya mengolok-olok  feminis sebagai sekelompok perempuan yang tidak berhati, egois, tidak punya rasa humor, yang tak menyukai lelaki atau tidak tertarik pada lelaki sehingga berkubang pada mentalitas korban, membayangkan mereka selalu melihat seksisme dimanapun mereka berada.

Sehingga pada titik ini di dalam sejarah, ketika feminisme terus menerus diserang selama 40 tahun terakhir tanpa tanda-tanda berakhir, maka hal terakhir yang kita pikir perlu lakukan adalah menyerang feminisme. Sebaliknya, kita perlu mempertahankan feminisme sebagai prinsip, sebagai pertahanan untuk pembebasan perempuan dan melawan seksisme. Apa definisi feminisme? Pembelaan terhadap hak perempuan di ranah politik, sosial dan kesetaraan ekonomi dengan lelaki.

- - - - - - - - - - - - - - -

SAYANG SEKALI, TIDAK semua Marxis, di sepanjang masa, mengerti kebutuhan untuk membela feminisme, dan untuk mengapresiasi capaian luar biasa dari gerakan perempuan, bahkan setelah era 1960-an membuka jalan bagi reaksi buruk. Ini termasuk beberapa dari tradisi kita sendiri, yakni tradisi Sosialis Internasional (IS)[3], yang menurutku, jatuh pada pendekatan reduksionis terhadap pembebasan perempuan selama beberapa dekade silam. Dan aku juga berpendapat bahwa organisasi kita sendiri telah menanggung cap dari pendidikan (semacam) ini terhadap beberapa hal terkait kunci teoritik, yang kusimpulkan secara singkat.

Pertama, apa itu reduksionisme? Dalam bentuknya yang paling murni, reduksionisme adalah gagasan bahwa perjuangan kelas akan memecahkan persoalan seksisme dengan sendirinya, dengan mengungkapkan kepentingan kelas sejati, sebagai yang bertentangan dengan kesadaran yang keliru/palsu. Jadi pendekatan ini “mereduksi” isu penindasan pada isu kelas. Biasanya juga dibarengi dengan suatu penekanan tentang kepentingan kelas objektif laki-laki untuk mengakhiri penindasan terhadap perempuan—tanpa mengambil tanggung jawab pada persoalan yang lebih berat: Bagaimana kita mengkonfrontasi seksisme di kalangan kelas pekerja?

Sekarang tampaknya pendekatan mentah ini tidak menjelaskan tradisi IS, yang tentu saja karena gerakan pembebasan perempuan tahun tahun 1960-an telah menangani pembebasan perempuan secara serius sebagai hal sentral dalam perjuangan untuk sosialisme.

Namun demikian, aku fikir, terdapat suatu adaptasi di arah reduksionisme, dan sebuah kecenderungan untuk meminimalisir penindasan yang dialami oleh perempuan kelas pekerja, yang menggiring suatu ujicoba lakmus[4] teoritik yang salah terkait persoalan apakah lelaki kelas pekerja “mendapat keuntungan dari penindasan perempuan. Aku juga ingin membuatnya menjadi jelas bahwa aku tidak sekadar menuduh dalam hal ini, karena, dalam derajat yang lebih rendah, kami di dalam ISO[5] mengadopsi pendekatan serupa.

Terdapat serangkaian artikel dan perdebatan di pertengahan tahun 1980-an di Jurnal Sosialisme Internasional yang melibatkan beberapa pimpinan kunci Partai Buruh Sosialis (SWP)  Inggris, yang mulai mengangkat isu yang baru saja dijelaskan. Aku tak bisa merangkum keseluruhan perdebatan, tetapi aku hanya bisa menyusun beberapa poin-poin kunci.  

Mari kita mulai dengan artikel pada tahun 1984 yang berjudul “Pembebasan Perempuan dan Sosialisme Revolusioner” oleh Chris Harman, salah seorang pimpinan SWP (aku ingin menjelaskan bahwa Chris Harman adalah salah satu tokoh Marxis terpenting di jamannya, yang memainkan peran kunci dalam pendidikan terhadap banyak orang diantara kita ketika di ISO, sehingga persoalan yang akan kugambarkan ini merepresentasikan suatu kekurangan kecil, kalaupun signifikan, dari kontribusi besarnya terhadap Marxisme). Di dalam artikelnya, Harman mengatakan:

Namun, kenyataannya, manfaat yang diperoleh lelaki kelas pekerja dari penindasan perempuan memang kecil... Manfaat ini memang datang dari persoalan kerja rumah tangga. Persoalan ini hingga sampai sejauh mana kelas pekerja lelaki mendapat manfaat dari kerja perempuan yang tak berbayar.

Apa yang didapat lelaki kelas pekerja secara langsung terkait  kerja yang dilakukan istrinya dapat dihitung secara  kasar. Yakni jumlah kerja yang harus ia kerahkan bila ia harus membersihkan rumah dan memasak untuk dirinya sendiri. Pekerjaan ini tak lebih dari satu atau dua jam sehari—beban bagi seorang perempuan yang harus melakukan pekerjaan ini  untuk dua orang setelah kerja upahan sehari, namun bukanlah keuntungan besar bagi pekerja lelaki.

Penting menyadari bahwa pendapat Harman di atas menjelaskan “kecilnya” manfaat yang dirasakan lelaki, tanpa menambah beban anak yang  ditanggung perempuan di dalam rumah tangga.

Seorang aktivis Sosialis Inggris lainnya, John Molyneux, merespon argumentasi Harman, dengan mengatakan bahwa manfaat yang diperoleh lelaki lebih dari kecil: “Harman mengatakan pada kita bahwa ini adalah ‘beban bagi seorang perempuan yang harus melakukan pekerjaan (rumah tangga) ini  untuk dua orang setelah kerja upahan sehari’,  jadi mengapa ia tidak (dianggap) keuntungan penting bagi pekerja (laki-laki) karena tidak perlu melakukannya?”

Argumentasi Molyneux mendapat tanggapan tajam dari anggota Komite Sentral SWP Lindsey German dan Sheila McGregor, dan Molyneux menjawab dengan sama tajamnya. Perdebatan tidak berakhir hingga tahun 1986. Lindsey German menyatakan poin argumentasi, “Perbedaan dan keuntungan yang dimiliki lelaki sama sekali tidak masif; tidakkpun mereka mendapat keuntungan substansial seperti yang dikatakan John. Sehingga tidak ada basis material bagi lelaki untuk menjadi “tersogok” oleh karena keuntungan ini. “

Sheila McGregor menjawab seakan-akan Molyneux berada di jalan yang mencampakkan Marxisme sepenuhnya: “Jika kita hendak memiliki suatu teori yang memadai terkait penindasan perempuan dan bagaimana memperjuangkannya, kita perlu melandaskan diri kita pada tradisi Marxisme. Posisi John, bahwa lelaki kelas pekerja mendapat manfaat dari penindasan perempuan, adalah satu langkah pertama menuju perpisahan dari tradisi kita”.

Selama perdebatan yang panjang ini, (sebenarnya) posisi telah berubah dari apa yang diargumentasikan Harman—bahwa lelaki mendapat manfaat”kecil”—menjadi klaim bahwa lelaki kelas pekerja tidak mendapat manfaat sama sekali dari penindasan perempuan—bersamaan dengan klaim bahwa, sekalipun lelaki mendapat keuntungan di dalam keluarga, hal itu tidaklah “substansial.”

- - - - - - - - - - - - - - - -

WALAUPUN   benar bahwa kapital adalah yang mendapat manfaat utama dari penindasan perempuan di dalam keluarga, dan dari semua sampah seksis yang digunakan untuk memperkuat posisi  perempuan sebagai warga negara kelas dua—dan juga bahwa lelaki kelas pekerja memiliki kepentingan kelas obyektif dalam pembebasan perempuan—aku juga hendak mengatakan bahwa mengajukan argumen dengan cara ini melahirkan suatu kecenderungan untuk meminimalisir parahnya situasi penindasan perempuan serta meremehkan kebutuhan untuk memeranginya di kalangan kelas pekerja.

Seperti dalam satu kasus, bandingkan argumen SWP dengan pendapat Lenin sendiri pada perbincangannya dengan Clara Zetkin, seorang revolusioner dari Jerman, di tahun 1920, beberapa tahun setelah Revolusi Rusia, ketika ia merinci lebih detail tentang hambatan dalam meraih pembebasan perempuan:

Adakah bukti lain yang lebih jelas (terkait penindasan perempuan yang terus menerus) dari pemandangan umum bahwa lelaki dapat dengan tenang menonton seorang perempuan menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan yang sepele, monoton, dan kerja yang menghabiskan tenaga dan waktu, seperti mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menyaksikan semangatnya menyusut,  pikirannya semakin tumpul, detak jantungnya semakin letih, dan kehendaknya semakin kendur? ... Sangat sedikit suami-suami, bahkan tidak pun (suami-suami) proletariat, berpikir tentang seberapa besar mereka dapat meringankan beban dan kekhawatiran isteri-isterinya, atau membebaskan mereka sepenuhnya, jika saja mereka membantu “pekerjaan perempuan” ini. Tetapi tidak, itu akan melawan “keistimewaan (priveledge) dan kehormatan para suami.” Ia menuntut bahwa ia harus istirahat dan nyaman...

Kita harus mencerabut sudut pandang pemilik budak masa lalu (semacam itu), baik di dalam partai serta di kalangan massa. Itulah salah satu tugas politik kita, suatu tugas yang sama pentingnya dengan pemebentukan seperangkat struktur yang terdiri dari kawan-kawan, lelaki dan perempuan, dengan pendidikan teori dan praktek yang menyeluruh untuk pekerjaan Partai di kalangan perempuan pekerja.

Partai Bolshevik, baik sebelum maupun setelah revolusi mengabdikan sumber daya manusia yang  besar untuk pemberdayaan dan pendidikan bagi perempuan pekerja dan perempuan tani, melalui departemen perempuannya—sekaligus membantah perilaku seksis lelaki kelas pekerja.

Alexandra Kollontai, anggota terkemuka Partai Bolshevik dan salah satu  teorisi handal partai itu terkait penindasan perempuan, menghadiri kongres Serikat Buruh Seluruh Rusia Pertama pada tahun 1917, dimana ia menyerukan lelaki kelas pekerja untuk mendukung perjuangan kesetaraan upah bagi perempuan pekerja. Ini yang dikatakannya:

Kelas pekerja yang sadar kelas harus memahami bahwa nilai kerja lelaki tergantung pada nilai kerja perempuan dan bahwa, dengan ancaman untuk menggantikan pekerja lelaki dengan pekerja perempuan yang lebih murah, kaum kapitalis dapat menekan upah pekerja lelaki. Hanya kekuarangan pemahaman lah yang dapat menggiring kita melihat persoalan ini sebagai persoalan yang murni “isu perempuan”.

Sehingga aku berpendapat bahwa dewasa ini tekanan kita tetap mesti lebih banyak pada teori dan praktek Bolshevik, yang mana kita tidak berupaya meminimalisir derajat penindasan yang dihadapi perempuan—atau kelompok-kelompok tertindas lainnya—di dalam kelas pekerja, melainkan bagaimana melakukan suatu upaya serius dalam memeranginya di berbagai lapangan.

Lebih jauh lagi, sebenarnya feminisme merupakan suatu gerakan yang luas dan beraneka segi, dengan banyak sayap yang berbeda dan banyak fondasi teoritis yang berbeda. Membuat argumentasi berbasiskan distorsi atas makna sebenarnya (straw-figure) dari “feminisme”, berdasarkan wujudnya yang paling borjuis, menjatuhkannya, dan kemudian berpikir bahwa pekerjaan kita (kemudian) selesai secara intelektual, merupakan tindakan yang merugikan perjuangan melawan penindasan perempuan. Terdapat perdebatan-perdebatan penting yang telah terjadi antar kaum feminis yang sebagian besar tak kita perdulikan, yang dapat memainkan peran di dalam memajukan pemahaman kita, baik terhadap penindasan perempuan maupun Marxisme itu sendiri.

- - - - - - - - - - - - - - - -

AKU tidak berpendapat di sini bahwa kita harus merangkul semua sayap feminisme secara sama atau tak kritis. Terdapat satu sayap tertentu, yang pada faktanya, mesti kita sikapi dengan permusuhan secara langsung: feminisme borjuis, atau kelas menengah. Perempuan-perempuan kelas penguasa dan perempuan kelas menengah juga mengalami penindasan, tetapi itu tidak berarti bahwa mereka bisa dipercaya dalam mendorong suatu strategi yang akan menyuarakan penderitaan mayoritas perempuan, yang menjadi bagian kelas pekerja.

Sebaliknya, makin banyaknya perempuan dalam manajemen perusahaan dan arena elektoral yang telah berlangsung lebih dari 45 tahun (telah) melembagakan feminisme kelas-menengah dalam bentuk organisasi-organisasi seperti Organisasi Nasional Perempuan-NOW dan Yayasan Mayoritas Feminis, yang tanpa rasa bersalah hanya melayani kebutuhan perempuan kelas profesional dan manajerial.

Hal ini telah membuka jalan pada apa yang disebut “Feminisme Kuasa” (Power Feminism)  sejak tahun 1990-a. Pengarang feminis Naomi Wolf telah merangkum dengan baik pendekatan baru ini dalam bukunya yang terbit pada tahun 1994, Fire with Fire. Di dalamnya, ia menciptakan istilah “feminisme kuasa” sebagai sebuah alternatif dari apa yang disebutnya sebagai “feminisme korban,” yang menurutnya termasuk “kebiasaan lama yang tersisa dari gerakan kiri revolusioner tahun 1960an—seperti anti kapitalisme refleksif, mentalitas insider–outsider dan kebencian terhadap ‘sistem’”.

Wolf mengakui bahwa kapitalisme “memang menindas banyak orang untuk kepentingan segelintir orang”, tapi ia berpendapat “uang yang cukup dapat membawa perempuan keluar dari banyak penindasan seksual.” Bahwa, secara singkat, pesan Wolf adalah: Perempuan harus merangkul kapitalisme dan mendapatkan sebanyak mungkin uang dan kekuasaan untuk diri mereka sendiri semampu mereka. Ia berpendapat, dengan membajingankan Marxisme, “tunda dulu ‘revolusi’, perempuan lebih baik menguasai alat produksi di tangannya sendiri... Bisnis perempuan bisa menjadi sel kekuatan di abad 21.”

Pada faktanya, Wolf merangkul pembedaan kelas di antara perempuan, ia berpendapat, “Akan ada saatnya dimana agresi antar perempuan adalah hal yang sehat, bahkan berakibat menambah energi, karena kita telah mencapai partisipasi penuh di dalam masyarakat... Perempuan mengelola, mengritik, dan menyerang perempuan lain, dan kadang karyawan-karyawannya, (itupun) dapat dimengerti, membenci  nyali mereka.”

Tak satupun kaum feminis atau sosialis mesti merasa menyesal karena tidak  merangkul feminisme kuasa  atau feminisme kelas menengah lainnya. Feminisme borjuis bukanlah hal baru, dan pendekatan Bolshevik terhadapnya memberi pelajaran bagi kita hari ini. Sekali lagi, Alexandra Kollontai meletakkan suatu dasar pendekatan yang berlaku pada situasi hari ini. Pada pamfletnya tahun 1909 yang berjudul “Basis sosial bagi Persoalan Perempuan,” ia menguraikan mengapa tidak bisa ada aliansi antara kelas pekerja dan perempuan kelas penguasa, terlepas aspek-aspek ketertindasan mereka yang sama:

Dunia perempuan, sebagaimana dunia lelaki, terbagi dalam dua blok: kepentingan dan aspirasi satu kelompok mendekatkannya pada kelas borjuasi, sedangkan kelompok lain memiliki hubungan dekat dengan proletariat, dan klaimnya terhadap pembebasan mencakup solusi menyeluruh terhadap persoalan perempuan. Dengan demikian, meski kedua kelompok tersebut mengikuti slogan umum “pembebasan perempuan,” tujuan dan kepentingan mereka adalah berbeda. Masing-masing kelompok tanpa sadar berbasis pendirian awalnya dari kepentingan dan aspirasi kelasnya masing-masing, yang memberi warna satu kelas tertentu terhadap target-target dan tugas-tugas yang ditetapkannya untuk dirinya... 

Namun demikian walau tampak seradikal apapun tuntutan kaum feminis, jangan sampai kehilangan arah, bahwa kaum feminis (borjuis) tidak dapat, karena posisi kelas mereka, berjuang untuk  transformasi fundamental masyarakat, yang tanpanya pembebasan perempuan tak akan akan pernah bisa diselesaikan.  

Terdapat sayap kedua feminisme yang secara langsung mesti terus ditolak oleh kaum Marxis dan feminis sosialis, meskipun tak lagi terkenal sejak tahun 1970-an: Separatisme, yang bersikeras bahwa semua lelaki kelas pekerja sama-sama bertanggung jawab atas sistem patriarki dengan semua lelaki kelas penguasa yang menindas perempuan.

Bertolak belakang dengan penggunaan istilah patriarki di masa kini, yang hanya menjelaskan sebuah sistem seksisme, separatisme memberi keutamaan penindasan perempuan dari semua bentuk penindasan lainnya, termasuk rasisme.

Sebagai contoh, analisa perkosaan oleh Susan Brownmiller pada bukunya yang berjudul Berlawanan dari keinginan kita: Lelaki, Perempuan dan Perkosaan,  berakhir dengan kesimpulan yang secara terang-terangan rasis dalam catatannya atas penghakiman massa terhadap Emmett Till pada tahun 1955. Till, yang berusia 14 tahun mengunjungi keluarganya di Jim Crow, Mississippi, pada musim panas tahun itu, melakukan tindakan ‘kriminal’ dengan bersiul terhadap seorang perempuan kulit putih yang sudah menikah bernama Carolyn Bryant, sebagai kelakar anak-anak remaja. Till disiksa dan ditembak sebelum tubuhnya dibuang di Sungai Tallahatchie.

Terlepas pembunuhan Till yang tanpa proses pengadilan, Brownmiller menggambarkan Till dan pembunuhnya sebagai pihak yang saling berbagi kuasa, dengan menggunakan klaim rasis secara terang-terangan: “Sangat jarang ada satu kasus yang tampak jelas seperti kasus Till, yakni antogonisme kelompok laki-laki utama atas akses terhadap perempuan... Dalam istilah yang konkret, aksesibilitas semua perempuan kulit putih sedang ditinjau.”

Sayap feminisme lainnya memiliki rekam jejak yang campur aduk. Teori dual sistem yang diadopsi oleh sebagian feminis sosialis berusaha mengombinasikan analisa kapitalisme dan patriarki, namun secara umum belum bisa mengatasi kontradiksi inheren dalam upaya melawan dua struktur paralel tersebut. Yang satu menghendaki perjuangan persatuan laki-laki dan perempuan pekerja dalam perjuangan bersama melawan musuh bersama dalam kapitalisme, sementara yang lain menghendaki seluruh perempuan dari berbagai kelas untuk bersatu melawan musuh bersama mereka dalam patriarki—yang tentu saja terdiri dari lelaki dari semua kelas.

Gelombang feminisme Ketiga pada tahun 1990-an melucuti teori patriarki sebagai yang utama dalam upaya sadar untuk memberikan prioritas yang sama terhadap perjuangan melawan rasisme dan hak-hak LGBT, yang merupakan langkah maju yang luar biasa. Tetapi di saat yang sama, aktivis feminisme gelombang ketiga jatuh pada jebakan individualisne postmodernis  dan mundur dari perjuangan—memprioritaskan perubahan gaya hidup dan bahasa ketimbang membangun jenis gerakan yang bisa menantang sistem.

- - - - - - - - - - - - - - - -.

SAYAP feminisme yang selama ini mendapatkan paling sedikit perhatian adalah feminis sosialis dan feminis Marxis—yang sekarang ku sadari telah memberikan kontribusi terbesar dalam memajukan teori penindasan perempuan selama beberapa dekade terakhir.

Kaum feminis ini mendapat sedikit perhatian di setiap lapangan. Selama bertahtanya pos-modernisme, kebanyakan kaum pos-modern—termasuk feminis posmodern—menolak  kontribusi mereka, karena kaum feminis ini merangkul teori penyatuan (Marxisme). Di saat yang sama, mereka diabaikan oleh banyak kaum Marxis (termasuk kita sendiri) hanya karena mereka feminis. Baru sekarang mereka mendapat perhatian yang seharusnya layak mereka dapatkan.

Kelompok feminis ini telah mengembangkan dan meluaskan pemahaman Marxis terhadap peran yang dimiliki kaum perempuan dalam mereproduksi kelas pekerja sebagai pelayan dari sistem kapitalis. Mengambil konsep dasar yang diletakkan oleh Marx dalam Capital tentang peran reproduksi sosial—yakni proses yang mempertahankan dan mereproduksi seluruh sistem kapitalis selama bergenerasi—feminis seperti Lise Vogel (yang menulis buku Marxisme dan Penindasan Perempuan  yang akan segera dipublikasikan ulang oleh Haymarket Books dan Historical Materialism) melanjutkan apa yang ditinggalkan oleh Marx, dan untuk pertama kalinya mengembangkan suatu pengertian yang canggih terkait peran tenaga kerja domestik dengan menggunakan konsep Marx tentang kerja yang dibutuhkan.

Aku juga hendak menyebutkan kontribusi Martha Gimenez, yang aplikasi Marxismenya terhadap penindasan perempuan berlangsung selama beberapa dekade. Seperti Vogel, Gimenez berperan dalam perdebatan dengan kaum feminis lainnya di banyak isu krusial, termasuk klaim bahwa Marxisme adalah reduksionis karena menganggap reproduksi tenaga kerja sebagai pelayanan terhadap kapital dan tidak untuk lelaki. Ini yang dikatakan Gimenez pada tahun 2005:

Pengertian bahwa di bawah kapitalisme, mode/corak produksi menentukan mode/corak reproduksi, dan konsukuensinya, (menentukan) relasi tidak setara yang tampak antara lelaki dan perempuan, bukanlah suatu bentuk “ekonomisme” atau “reduksionisme kelas”, melainkan pengakuan terhadap jejaring yang rumit/kompleks dari dampak tingkat makro sebuah mode/corak produksi, terhadap hubungan lelaki dan perempuan, yang digerakkan oleh akumulasi kapital ketimbang oleh tujuan memenuhi kebutuhan manusia. Mengatakan yang sebaliknya, mendalilkan bahwa “interaksi saling menguntungkan” antara organisasi produksi dan organisasi reproduksi atau memberikan keutamaan sebab akibat terhadap aspek reproduksi, adalah mengabaikan signifikansi teoritik terhadap bukti yang sangat banyak  yang mencatat subordinasi kapitalis atas reproduksi kepada produksi.  

Kaum feminis ini tidak hanya memainkan peran kunci dalam memajukan teori Marxis terkait penindasan perempuan, tetapi mereka juga mengingatkan pada kita bahwa Marxisme adalah suatu teori yang hidup dan bernafas yang masih dalam proses pembangunan. Dan memperdalam teori Marxis dan teori feminis artinya juga memperdalam dan meluaskan potensinya bagi praktek kita di masa depan dalam memerangi penindasan perempuan.

Akhirnya, aku pikir sangat berharga menekankan bahwa kita tidak hanya membutuhkan teori Marxis dan feminis, tetapi juga praktek Marxis dan feminis dalam memperjuangkan pembebasan perempuan. Praktek tersebut harus ikut serta dalam pembangunan partai revolusioner, karena tanpa partai sosialis revolusioner, tidak akan ada revolusi sosialis yang berhasil.

Sementara suatu revolusi sosialis tidak secara otomatis membebaskan kaum perempuan, revolusi sosialis menciptakan syarat material untuk mewujudkannya. Dan melalui proses revolusilah di setiap tahap, dari pertama sampai terakhir, kaum revolusioner dalam tradisi Partai Bolshevik, memiliki peran penting dalam memerangi penindasan perempuan, tidak hanya dari atas, melainkan juga dari dalam kelas pekerja. Tidak ada substitusi/pengganti terhadap proses ini. Marx dengan jelas sudah mengatakannya: “Revolusi itu dibutuhkan, oleh sebab itu, tak saja karena kelas penguasa tak bisa digulingkan dengan cara lain, namun karena kelas yang menggulingkannya (juga) hanya dalam revolusi berhasil membersihkan dirinya dari semua sampah masa lalu dan menjadi berkesesuaian untuk membentuk kembali masyarakat (yang baru).”

Jika peran kaum revolusioner tak terpisahkan, maka demikian lah pula agar kita menjadi makin efektif, tidak dengan meminimalisir tantangan yang kita hadapi dalam memerangi seksisme di kalangan kelas pekerja, melainkan dengan mengakuinya dan, atas landasan ini, membangun sebuah strategi yang bertujuan untuk melibatkan seluruh kelas pekerja di belakang tujuan pembebasan perempuan. *** 

Sharon Smith, penulis buku Perempuan dan Sosialisme: Esai tentang Pembebasan Perempuan yang segera akan dipublikasikan, memeriksa bagaimana tradisi Marxis selama ini  menangani perjuangan untuk mengakhiri penindasan terhadap perempuan, termasuk sikapnya terhadap teori-teori lain, di dalam artikel yang berdasarkan pada pidato yang diberikannya dalam Konferensi Sosialisme tahun 2012 di Chicago.



[1] Diterjemahkan oleh DST dan diedit oleh ZA, dari website: http://socialistworker.org/2013/01/31/marxism-feminism-and-womens-liberation
[2] Metafora yang digunakan dalam melakukan segregasi rasis terhadap peningkatan karir.
[4] Lakmus adalah suatu kertas dari bahan kimia yang akan berubah warna jika dicelupkan kedalam larutan asam atau basa

No comments:

Post a Comment